Kekasihku....
Maafkanlah, aku bukan penyair
Yang selalu memberikan kata-kata indah dalam setiap detikmu
Juga menyanjungmu dengan segala pujian
Kemudian membawamu kedalam suasana surga
Ketika darah menjelma anggur
Juga api yang beku diantaranya
Dan kau lelap....kau lelap
Kekasihku...
Maafkanlah, Aku bukanlah pecinta yang agung
Yang memanjakanmu dengan cinta-cinta seperti mereka
Lalu mendamaikanmu dengan rasa 1000 surga
Kekasihku...
Maafkanlah, Aku tak bisa membangun kerajaan langit yang penuh cinta
Yang pilar-pilarnya dari emas
Seperti mimpi malam yang kau nantikan
Yang mungkin juga kunantikan, hanya sebatas angan-angan
Karna angin cobaan kencang mengusap kita dari selatan
Kau, aku, hanya bisa bertahan, ya, kita hanya bisa bertahan
Dan mereka juga demikian
Peganglah tanganku, dan rasakan apa ada namamu disana?
Diantara darah yang mengalir pada nadi-nadi yang kau pegang
Lihatlah, namamu mengalir diantara merahnya, dan ajal menghadang kita
Kekasihku..
Maafkanlah, Aku hanya punya hati, yang selalu menyebut namaMu antara senja dan senja berikutnya
Sebatas rasa, yang mungkin tak berarti apa-apa,
Kala pelatuk sinai menguning, sanggupkah kau hadir diantara kekuranganku?
Kemudian kita pergi bersama
Kala embun-embun memuntahkan warna-warna
di langit takdir kita
Kau, aku, selamanya,
Oleh: Magid
Friday, February 13, 2009
Thursday, February 12, 2009
Pulau Penyengat
Kudengar angin berdesir
Kudengar karang membentak
Kudengar air bicara
Kudengar tembok kuning menggigil
Disini, tepat di beranda Masjid penyengat
Kudengar peta berkata
Kudengar darmaga bernyanyi, meski lagu sepi
Kudengar lumut-lumut berzikir
Kudengar hujan mengusir
Disini, di Pulau Penyengat
Kudengar galau pelan menumbangkan semangat
Kudengar keringat muncul di dahiku
Kudengar kumbang mengaung, bersama adzan
Kudengar meriam yang terpasang itu memuntahkan harapan
Disini, penyengat, ketika semua hanya bisa kudengar
Kudengar jaring-jaring kehidupan
Kudengar ikan-ikan nasib berenang, meski musim selatan tak terelakkan
Kudengar sampan kehidupan mulai terhempas
Kudengar semua pelan-pelan bersama senja kehidupan
Disini, Tanah Raja Haji Fisabilillah, Akulah Tuan Melayu!
ah....bukan, aku hanya dengar!
Oleh: Magid
Kudengar karang membentak
Kudengar air bicara
Kudengar tembok kuning menggigil
Disini, tepat di beranda Masjid penyengat
Kudengar peta berkata
Kudengar darmaga bernyanyi, meski lagu sepi
Kudengar lumut-lumut berzikir
Kudengar hujan mengusir
Disini, di Pulau Penyengat
Kudengar galau pelan menumbangkan semangat
Kudengar keringat muncul di dahiku
Kudengar kumbang mengaung, bersama adzan
Kudengar meriam yang terpasang itu memuntahkan harapan
Disini, penyengat, ketika semua hanya bisa kudengar
Kudengar jaring-jaring kehidupan
Kudengar ikan-ikan nasib berenang, meski musim selatan tak terelakkan
Kudengar sampan kehidupan mulai terhempas
Kudengar semua pelan-pelan bersama senja kehidupan
Disini, Tanah Raja Haji Fisabilillah, Akulah Tuan Melayu!
ah....bukan, aku hanya dengar!
Oleh: Magid
Hidup Dan Alkhiyamah
Kehidupan manusia di dunia seperti air hujan yang turun dari langit,
maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi,
kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin
Satu persatu digantikan yang baru
Saat matahari sepenggalahan naik
membawa batas-batas risau sebagian dari kita
Diantara hati dan katub-katubnya
Maka, Kembalilah pada laut !!
Kemudian pabila malam telah sunyi,
Bunyi sang kakala pun terdengar
Jadikanlah pijakanmu sekuat baja,karna
Pada hari itu manusia seperti anai-anai yang bertebaran,
Dan tuhan bisa menjadikan apapun, ''Kun Fayakuun''
Oleh: Magid
maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi,
kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin
Satu persatu digantikan yang baru
Saat matahari sepenggalahan naik
membawa batas-batas risau sebagian dari kita
Diantara hati dan katub-katubnya
Maka, Kembalilah pada laut !!
Kemudian pabila malam telah sunyi,
Bunyi sang kakala pun terdengar
Jadikanlah pijakanmu sekuat baja,karna
Pada hari itu manusia seperti anai-anai yang bertebaran,
Dan tuhan bisa menjadikan apapun, ''Kun Fayakuun''
Oleh: Magid
Tanjungpinang
Pemuda itu ringkih, berdiri setengah mati
Badannya memucat, seiring mentari menyengat membakar sekitarnya
Dia diam, tapi seperti bergumam, entah, dia berkata pada siapa
Tepat disudut jalan kota berjuluk bestari
Tak jauh dari pemuda itu, lalu lalang manusia tak henti-hentinya
semua tak berubah, sibuk menghitung waktu
Tuhan, Kota ini hanya melukiskan manusia dan dunia
Yang mungkin juga belum sepenuhnya terpahami olehku
Kalam berubah keringat, Sabda menjelma penat
Tuhan, kau tetap saja sembunyi diantara kayu-kayu gereja
Mungkin juga di tembok-tembok Masjid Penyengat
Tapi semua usang, semua berlumut, tak terawat
''Barang kali manusia sudah sangat sibuknya''
Tanjungpinang! Tanjungpinang! bicaralah padaku..
Katakan dengan syair hingga batu dan krikil menjadi emas
Ucapkan dengan sajak biar ornamen embun kembali muncul
Akuilah, kau hanya sebuah Kota yang terus menumbuhkan perbedaan
Tapi apa? tapi apa? Kau tetap saja diam
Perbedaan mengakar, meresap hingga ke pori-pori tanahmu yang menua
Kemudian ketika semua mulai redup
Aku berjalan sampai ke dermaga senja
Kapal-kapal mengantri, terlihat malas membawaku pergi dari kondisi ini
''Saatnya ku lepaskan dirimu, Tanjungpinang! seperti kemarin, hari ini aku harus pulang!'' Bye
Oleh:Magid
Badannya memucat, seiring mentari menyengat membakar sekitarnya
Dia diam, tapi seperti bergumam, entah, dia berkata pada siapa
Tepat disudut jalan kota berjuluk bestari
Tak jauh dari pemuda itu, lalu lalang manusia tak henti-hentinya
semua tak berubah, sibuk menghitung waktu
Tuhan, Kota ini hanya melukiskan manusia dan dunia
Yang mungkin juga belum sepenuhnya terpahami olehku
Kalam berubah keringat, Sabda menjelma penat
Tuhan, kau tetap saja sembunyi diantara kayu-kayu gereja
Mungkin juga di tembok-tembok Masjid Penyengat
Tapi semua usang, semua berlumut, tak terawat
''Barang kali manusia sudah sangat sibuknya''
Tanjungpinang! Tanjungpinang! bicaralah padaku..
Katakan dengan syair hingga batu dan krikil menjadi emas
Ucapkan dengan sajak biar ornamen embun kembali muncul
Akuilah, kau hanya sebuah Kota yang terus menumbuhkan perbedaan
Tapi apa? tapi apa? Kau tetap saja diam
Perbedaan mengakar, meresap hingga ke pori-pori tanahmu yang menua
Kemudian ketika semua mulai redup
Aku berjalan sampai ke dermaga senja
Kapal-kapal mengantri, terlihat malas membawaku pergi dari kondisi ini
''Saatnya ku lepaskan dirimu, Tanjungpinang! seperti kemarin, hari ini aku harus pulang!'' Bye
Oleh:Magid
Tuesday, February 10, 2009
Aku Berhenti Pada Sebuah Titik
Aku berhenti pada sebuah titik
tepat, ditepi hari ketika mentari malas memerah
Hangat berganti dingin, menusuk belulang, bersama kabut yang datang pelan-pelan
Dan kata menjadi tak bermakna
Disini diatas kursi kebimbangan,
fikiran tak tentu arah, begerak ibarat ombak dilaut lepas
Menggulung semua kenyataan, memuntahkan sebagian perasaan
Entah itu cinta, entah itu benci
Tiba-tiba aku teringat, sebuah keadaan
Yang pernah terlewati sebelumnya, ketika karam dalam malam
Sisa-sisa lahar cinta yang dingin mengalir dari kepundan hati
Hilang begitu saja, tidak! tidak! ini bukan Dejavu
Dan ku akhiri tulisanku dengan titik, karna perasaanku juga berhenti pada titik.
Oleh: Magid
tepat, ditepi hari ketika mentari malas memerah
Hangat berganti dingin, menusuk belulang, bersama kabut yang datang pelan-pelan
Dan kata menjadi tak bermakna
Disini diatas kursi kebimbangan,
fikiran tak tentu arah, begerak ibarat ombak dilaut lepas
Menggulung semua kenyataan, memuntahkan sebagian perasaan
Entah itu cinta, entah itu benci
Tiba-tiba aku teringat, sebuah keadaan
Yang pernah terlewati sebelumnya, ketika karam dalam malam
Sisa-sisa lahar cinta yang dingin mengalir dari kepundan hati
Hilang begitu saja, tidak! tidak! ini bukan Dejavu
Dan ku akhiri tulisanku dengan titik, karna perasaanku juga berhenti pada titik.
Oleh: Magid
Jangan Bantu Tuhanku Mikir
Suatu ketika kau datang padaku, ketika cahaya memanas menyentuh sebagian kulitku
Kau berbicara seperti laut yang tak henti-hentinya berombak
Kau muntahkan semua dari kepundan putus asa,
Tapi, suatu ketika kau tak menemukan berlian atau mungkin emas didasarnya
Hanya Tuhan yang tahu, hanya tuhan yang tahu
Kapal bergerak, langit beriak, matahari yang serak
Kaki-kaki berjalan, tangan-tangan menyentuh dan merasa setiap kepedihan yang ada
Satu Hal: Jangan bantu Tuhanku Mikir!! jawabku
Semua yang tertulis dalam kalamNya adalah menjadi sebuah ketetapan
Laut berombak, angin bergerak, bintang benderang, matahari menyengat adalah takdir yang tak bisa kau pisahkan
Manusia hanya setetes air dalam lautan, tak berarti dimataNya
Jangan bantu tuhanku berfikir
Semua ketetapan sudah ditetapkan
Semua rel kehidupan telah ditata, jauh-jauh hari sebelum kita ada
nikmatilah dan kencanilah takdir
Langit tercipta tanpa batas, tak bisa kau jengkal dengan jari
juga mentari yang panas takkan mampu kau rasa dengan kulit yang telanjang
Sadarlah, sadarlah sadarlah sobat, aku bukan pasrah, hanya tak mau membantu tuhan berfikir
Oleh: Magid
Kau berbicara seperti laut yang tak henti-hentinya berombak
Kau muntahkan semua dari kepundan putus asa,
Tapi, suatu ketika kau tak menemukan berlian atau mungkin emas didasarnya
Hanya Tuhan yang tahu, hanya tuhan yang tahu
Kapal bergerak, langit beriak, matahari yang serak
Kaki-kaki berjalan, tangan-tangan menyentuh dan merasa setiap kepedihan yang ada
Satu Hal: Jangan bantu Tuhanku Mikir!! jawabku
Semua yang tertulis dalam kalamNya adalah menjadi sebuah ketetapan
Laut berombak, angin bergerak, bintang benderang, matahari menyengat adalah takdir yang tak bisa kau pisahkan
Manusia hanya setetes air dalam lautan, tak berarti dimataNya
Jangan bantu tuhanku berfikir
Semua ketetapan sudah ditetapkan
Semua rel kehidupan telah ditata, jauh-jauh hari sebelum kita ada
nikmatilah dan kencanilah takdir
Langit tercipta tanpa batas, tak bisa kau jengkal dengan jari
juga mentari yang panas takkan mampu kau rasa dengan kulit yang telanjang
Sadarlah, sadarlah sadarlah sobat, aku bukan pasrah, hanya tak mau membantu tuhan berfikir
Oleh: Magid
Subscribe to:
Posts (Atom)
