Thursday, September 30, 2010

Kabut September Movemen

 Oleh: Nur F Magid
Menyikap Fakta dan Data Sejumlah Ahli dan Saksi Sejarah

''Ini resiko bapak karena menjadi pentolan partai politik. Untuk itu ibu selalu berpesan, agar saya tidak ikut kegiatan apa-apa selain hanya pramuka''

Cuplikan diatas adalah bagian dari cerita buram yang ditulis Svetlana Dayanti, anak tertua dari Bung Nyoto, ketua II Comite Central (CC) Partai Komunis Indonesia (PKI). Svetlana yang bisa diartikan sebagai cahaya (dalam bahasa rusia) itu memang nama yang indah, namun keindahan namanya tidak seindah kisah perjalanan hidupnya. Ya, horor itu dimulai ketika Svetlana masih berusia 9 tahun, ketika itu ia terpaksa diasuh ibunya di dalam penjara. Tepatnya awal Oktober 45 tahun lalu, ketika slogan 'penyelamatan revolusi' dikumandangkan di radio-radio. Gelombang pembersihan aktivis Partai Komunis Indonesia (PKI) pun dilakukan.


Pada saat pemberanganusan sedang berlansung, Bung Nyoto bersama keluarganya lantas mengungsi di kawasan Gunung Sahari Jakarta pusat. Namun tentara yang mengejarnya berhasil menangkap, dan menjebloskan keluarga yang harmonis ini ke penjara militer.

Horor kembali berlanjut, ketika pada sebuah pagi yang datang menjelang, Svetlana terpaksa berpisah dengan ibunya, Soetarni yang  harus di interogasi seputar kegiatan suaminya. Pada saat itu,datang seorang anggota militer menyuruhnya membersihkan sebuah ruangan di sudut bangunan yang dikenalnya sebagai asrama itu. Dengan mata yang masih polos Ia menyaksikan ceceran darah dilantai yang sudah mengering. Diatas sebuah meja terlihat cambuk ekor pari yang juga berlumur darah, serta beberapa orang yang keluar dari ruangan didekatnya dengan muka bermandikan darah segar. Pemandangan itu kerap kali ia saksikan, saat menunggu ibunya di interogasi.

Dalam kondisi psikologis yang cukup tertekan, Svetlana mendapat wejangan dari ibunnya bahwa semua yang dialaminya adalah buah dari orang tuanya yang aktif dan menjadi tokoh penting partai politik. Ya, total selama 11 tahun ia dan ibunya merasakan hidup dipenjara, sementara bapaknya yang menjadi tokoh penting PKI, nasibnya tak jelas.

Kengerian akan horor awal Oktober 1965,  dirasakannya tidak hanya pada saat ia harus menikmati bagaimana tertekannya hidup dalam penjara. Tapi juga beberapa tahun saat menghirup udara bebas. Nama indah pemberian bapaknya pun terpaksa harus di tanggalkan. Pada masa itu, bahasa simbol sangat berkuasa. Nama-nama Rusia banyak dipakai beberapa petinggi PKI sebagai nama anak-anak mereka. Setiap nama yang dicomot dari bahasa Rusia- secara asal-asalan dicap sebagai PKI. Itu yang membuat Svetlana harus menghilangkan namanya hingga 22 tahun.

Jika Svetlana menikmati hidup di penjara pada saat usia 9 tahun, lain lagi dengan keluarga D.N Aidit. Ketika gelombang horor G30S berlansung, keluarga Aidit tercerai berai. Anak pertama dan kedua Ibraruri serta Ilya Meliani yang pada saat itu sekolah di Moskow, sama sekali tidak tahu bagaimana nasib ayahnya di tanah air. 25 November 1965 tepat setelah 3 hari penangkapan Aidit, Ibunya Dr Sutanti, harus dipenjara selama 11 tahun. Berita di koran Rusia pada saat itu cukup membingungkan. Ada isu soal Aidit yang melarikan diri ke Hongkong dengan Kapal selam, ada juga yang mengabarkan Aidit sudah mati. Hingga suatu hari, ketika utusan Partai Komunis Rusia memastikan kepadanya bahwa D.N Aidit sudah dibunuh. Pasca berita ini tersebar luas, Ibraruri dan Meliani harus menjalani hidupnya dengan berpindah-pindah, dari Rusia, China,Macao, hingga pada akhirnya menetap di Orly, sebuah daerah di selatan Paris sampai saat ini.

Rentetan horor G30S itu terus terjadi hingga selang waktu cukup lama. Puluhan, Ratusan bahkan mungkin ribuan kepala yang terpenggal, dari desa-desa di Jawa hingga Bali. Saat Radio menyiarkan perintah untuk menggantung Aidit, Brangus PKI hingga ke akar-akarnya, bahkan kalau di desa sampai 'Cindil-cindilnya', gelombang  horor semakin membangkitkan bulu kuduk kita. Suasana mencekam bagi mereka yang pada saat itu 'ikut' aktif dalam organisasi PKI.

Penumpasan dilakukan, mayat diarak, bahkan di desa-desa banyak yang tidak mengerti apa-apa juga menjadi korban kebiadapan manusia pada saat itu, hanya karena di cap sebagai antek genjer-genjer (lagu yang dijadikan alat propaganda PKI.pen).

Mencermati kengerian itu, saya teringat, ketika nenek saya bercerita bagaimana suasana desa kami di daerah Mojokerto. 'Cak Wangi' atau 'Singo Wangi' sebuah desa yang terletak di ujung timur kecamatan Mojokerto, awalnya dikenal sebagai desa dengan penduduk yang cukup ramah, mayoritas mereka berprofesi sebagai petani. Tepat berselang satu hari setelah pengumuman untuk menumpas PKI sampai ke 'cindil-cindilonya' Desa itu pun berubah. Beberapa orang yang di tuduh ikut 'Genjer-Genjer' diamankan. Meskipun mereka tidak mengerti partai politik manapun bahkan PKI. Mereka hanya menyebut Partai Komunis itu dengan sebutan Genjer-genjer (lagu propaganda PKI).

"Orang-orang yang pernah ikut genjer-genjer di arak ke kantor lurah, dan sebagian diculik orang tak dikenal'' sebut nenek saya. Sebegitu dasyatnya horor itu berlangsung, hingga di desa yang letaknya cukup jauh dari pusat kota terkena imbas gelombang penumpasan terhadap aktivis PKI.

Hanya karena dosa tuduhan 'coupt de etat' yang belum terbukti. Manusia sama sekali tak ada harganya. tak peduli pejabat, lurah, seniman, semua di eksekusi tanpa proses pengadilan. Bagi sebagian 'yang beruntung' diasingkan di Pulau Buruh. Tidak hanya PKI, organisasi yang berkaitan dengan partai itu pun di bersihkan. Beberapa aktivis Lekra, Pramoedya Ananta Toer dan Joko Pekik juga turut merasakan buramnya jadi Tapol. Tapi apapun itu, adalah bagian dari sejarah bangsa Indonesia, dan saya yakin korban tetap bisa memaafkan, tapi takkan melupakan kengerian horor G30S seperti kata sejarahwan Anhar Gonggong.

Dalang Gerakan 30 September Masih buram, perang urat saraf melalui tulisan pun dilakukan.

Kini 2010, tepat 45 tahun lalu, sejak horor itu terjadi, kabut misteri tragic movement itu masih menyelimuti. Adilkah jika 'hanya'disangka membunuh 6 orang jendral, lantas PKI harus membayarnya dengan puluhan, ratusan bahkan ribuan kepala pada pendukungnya?-adil?

Penelitian-demi penelitian yang dilakukan beberapa ahli sejarah, masih juga belum menyingkap siapa dan apa sebanarnya dalang Gerakan 30 September 1965 berikut tujuan pembrangusan PKI. Perdebatan pun berlanjut melalui berbagai tulisan. Puluhan buku mulai di terbitkan, semua untuk menelisik dan membuka tabir diantara kabut yang menyelimuti horor G30S.

Pemerintah sendiri menjelaskan G30S dengan menerbitkan Buku putih karya Nugroho Notosusanto. Buku putih G30S yang beredar sejak 1978 itu sebenarnya disusun Nugroho 40 hari setelah kejadian, namun di terbitkan bersama dengan mantan Oditur Mahkama Militer luar biasa, Durmawell Ahmad dan Sunardi D.M yang dikenal sebagai orang yang mengadili Sudisman, seorang Polit Biro CC PKI. 

Sebelumnya, lelaki yang juga dikenal sebagai Kepala Pusat Sejarah ABRI itu juga pernah menerbitkan buku dalam versi bahasa inggris. Buku berjudul 'The Coupt Attempt of the September 30 Movement in Indonesia' di susun Nugroho bersama Ismail Saleh. Tidak hanya itu, Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban serta Dinas Sejarah Angkatan Darat juga menyusun buku serupa.

Pada 1994 pun demikian, kantor Sekretariat Negara menerbitkan buku berjudul "Gerakan 30 September Pemberontakan Partai Komunis Indonesia, Latar belakang, aksi dan penumpasannya".

Dari versi resmi itu, PKI di tuding sebagai dalang gerakan 30 September. Oleh karenanya Orde Baru menamainya peristiwa itu sebagai G30S/PKI, hal ini untuk mempertegas bahwa PKI lah yang merancang gerakan tersebut. Melalui Biro Khusus yang di ketuai Sjam Kammaruzzaman, PKI telah merancang aksi kudeta.

Biro rahasia yang juga telah membina ratusan perwira militer 'berpikiran maju' ini bertanggung jawab langsung ke Pimpinan CC PKI, D.N Aidit. Puncaknya, saat 4 Agustus 1965, saat Presiden Sukarno di kabarkan mengalami sakit, saat itu juga menurut versi buku ini, PKI mulai melancarkan aksinya.

Mendengar kabar sakitnya Presiden, Aidit yang berada di luar negeri bergegas pulang untuk menyiapkan langkah-langkah agar rencana perebutan kekuasaan tidak didahului Angkatan Darat. Apalagi hanya tinggal TNI-AD yang menjadi rival PKI, setelah beberapa partai Politik lebih dahulu diberangus. Masyumi dan Partai Sosialis Indonesia dibrangus karena beberapa tokohnya dituduh terlibat pemberontakan PRRI. Sebagai pembenaran fakta, pengakuan Letkol. Untung Syamsuri tentang pembicaraannya dengan presiden Sukarno dijadikan bukti. Menurut Untung, presiden sempat menanyakan apakah dirinya sanggup menangkap jendral-jendral yang berani menilai kebijakannya. Kemudian Ia menjawab ''Sanggup apabila di perintah''. Kisah ini bagi pemeirintah yang berkuasa, sudah cukup untuk dijadikan bukti jika G30 S sebenarnya hanyalah sebuah sekenario dadakan yang dirancang PKI.

Penulis lain yang juga sepakat PKI adalah dalang Gerakan 30 September yakni Arnold C Brackman dalam bukunya 'The Communist Collapse in Indonesia (1969)'. Arnold berkesimpulan sama dengan versi pemerintah saat itu. Pada 1971 Majalah 'South East Asia'  menerbitkan arikel karya Guy J Pauker yang berjudul 'The Gestapu Affair of 1965' yang juga berkesimpulan bahwa PKI dalang utama September Movement.

Berbeda dengan penulis diatas, A Belensky dan B Ilichov yang berasal dari Rusia justru menuding Presiden Sukarno terlibat G30S. Dalam artikel yang di muat majalah komunis diterbitkan pada 28 Oktober 1968, kedua penulis Rusia itu berpendapat bahwa G30S digerakkan perwira Angkatan Darat yang didukung Angkatan Udara. Dengan perhitungan Sukarno akan berpihak kepada kekuatan kiri. Karena diduga Sukarno mengetahui rencana itu, Kedua penulis asal Rusia ini justru menuduhnya sebagai dalang G30S.

Kesimpulan akhir itu juga di kemukakan Anthonie C.A Dake dalam bukunya 'In the Spirit of the Red Banteng: Indonesia Communist Between Moskow and Peking 1959-1965' yang di terbitkan pada 1973. Buku lain juga di terbitkan Dake pada 1974. Buku berjudul  'The Davious Dalang Sukarno and the Socelled Untung Pucsch.Eyewitness report by Bambang S Widjanarko'. Buku ini merupakan kesimpulan dari 14 berita acara pemeriksaan tim pemeriksa pusat Kopkamtib terhadap kolonel KKO Bambang S Widjanarko, bekas ajudan Presiden Sukarno. Pendapat Dake ini didukung peneliti lain David Lowenthal dari Jerman dan Jhon Huges.

Namun pada akhirnya tulisan Dake itu mendapat bantahan dari penulis dalam negeri. Ya, dia adalah mantan perwira Intel, Sugiarto Soerojo. Ia membantah adanya pembicaraan antara Presiden dengan Untung, melalui buku berjudul 'Siapa Menabur Angin Akan Menuai Badai'.

Tapi tidak semua peneliti sepakat dengan Teori dalang G30S adalah Sukarno dan PKI. W.F Wertheim, dalam tulisannya berjudul ''Suharto and Untung Coup- The Missing Link (1970)", justru meragukan keterlibatan Sukarno dan PKI. Dalam tulisan itu, Profesor WF Wertheim berkesimpulan bahwa Suharto yang melakukan 'Coupt de Ettat' dengan cara merangkak dan memanfaatkan posisi Syam Kammaruzzaman yang diduga agen rangkap. Ia sedikit heran, karena posisi Soeharto pada saa itu adalah salah satu perwira paling senior, namun rumahnya tidak didatangi pasukan tak dikenal layaknya jendral-jendral yang "di-lubang buaya-kan".  Tuduhan ini di perkuat dengan kenyataan bahwa Syam merupakan kawan sekaligus mantan anak buah Suharto dari kelompok Pathok, Jogja pada masa perang kemerdekaan.

Penulis lain yang juga tertarik untuk mengurai sejarah G30S ini yaitu, Benedict R.O'G Anderson dan Ruth Macvey. Kedua penulis itu adalah ahli Indonesia asal Universitass Cornell, AS. Pada makalah berjudul ' A Parliminary Analysis of the September Movement' mereka menyimpulkan G30S adalah persoalan Internal AD. Namun pada saat bersamaan ada yang mencoba menyeret-nyeret PKI agar ikut terlibat. Tulisan ini terbit satu tahun berselang setelah kejadian G30S, dan sempat gempar sebab versinya mirip dengan versi resmi yang di keluarkan PKI.

Peter Dale Scott dari california University, Berkeley, Amerika Serikat. Ia membuat analisis yang lebih mencengangkan. Dalam monogramnya, "The United States and Overthrow of Sukarno, 1965-1967"  ia mengemukakan bahwa dalam G30S Dinas Intelegen Rahasia dari negara digdaya Amerika Serikat cukup punya andil. Central Intelegence Agency (CIA) membantu Suharto untuk melakukan kudeta dengan memanfaatkan G30S. Teori keterlibatan CIA makin meriah dengan munculnya dokumen-dokumen CIA yang dikumpulkan wartawati kantor berita 'State News Service Amerika Serikat', Kathy Kadane. Berbekal data tersebut, Kathy menuding CIA yang membuat ratusan ribu anggota PKI tewas. Sebab, pada 1965 CIA telah mengirimkan nama-nama tokoh PKI kepada aparat keamanan Indonesia.

Keterlibatan Intelejen Asing dalam G30S juga diuraikan Greg Paul Green dari Universitas New England Austria. Dalam bukunya berjudul 'The Genesis of Malaysia Confrontasi: Brunei and Indonesia, 1945-1965" ia menjabarkan bahwa dalam September Movement, dinas Intelegen Inggis MI-6 juga terlibat. Dari analisa Greg, Inggris cukup terusik, dan kepemimpinan Sukarno yang diangap membahayakan kepentingan negeri Inggris di Malaysia. Apalagi dengan kebijakan Ganyang Malaysia yang sempat di gembar-gemborkan Presiden pertama RI itu.

Dan belum lagi buku-buku tulisan keluarga mantan anggota PKI yang juga sudah banyak diterbitkan. Hal itu semua tidak lain adalah untuk mengemukakan kebenaran akan kejadian, kengerian, horor yang menyelimuti Indonesia pada saat itu.

Dengan beragam versi itu, apakah kita bisa menentukan fakta mana yang menjadi sebuah kebenaran. Ibarat melihat patung dari 4 sisi, masing-masing sisi tentu merupakan fakta tersendiri. Tapi benarkah fakta tergantung dari sisi, lantas kenapa beberapa orang diadili, kenapa tidak ada keseragaman dalam fakta 4 dimensi tersebut?-atau bahkan ada yang bilang bahwa fakta dan sejarah adalah milik penguasa, siapa yang berkuasa pada saat itu maka mereka berhak memaksakan fakta dan sejarah mana yang benar. Atau kita hanya kelinci percobaan dua blok yang bertikai pada saat itu, yakni Amerika dengan Demokasi-nya dan Rusia dengan Komunisnya. Tapi apapun itu, kengerian horor G30s yang belum tersingkap dengan jelas, belum 'terbugilkan', sebaiknya tidak boleh kita lupakan. Saya ingat, pada masa kepemimpinan Presiden Abdurahman Wahid, sempat digembar-gemborkan pemerintah akan melakukan rekonsiliasi terhadap masalah ini. Hal ini guna memberikan keadilan terhadap korban G30S, juga keluarganya yang masih mengalami perlakuan diskrimintaif. Gema untuk menuliskan sejarah yang sebenarnya dan perjuangan untuk menuntut haknya pada korban G30S itu semakin gencar seiring akan dicabutnya Tap MPRS No.XXV/MPRS/1966 tentang pembubaran PKI dan pelarangan Komunis/Marxis/Leninis.

Ya, mantan Presiden yang juga cucu pendiri Nu itu memang dikenal cukup memiliki keprihatinan terhadap nasib orang-orang kiri di Indonesia. Pria yang akrab disapa Gus Dur itu juga sempat menulis kata Pengantar pada buku berjudul 'Aku Bangga jadi anak Komunis' yang di susun Dr Ribka Tjiptaning Proletariyati. Namun sayangnya, dukungan untuk mencabut Tap MPRS itu tidak kunjung terlaksana hingga waktu jabatan beliau lengser. Kini Potret buram sejarah Indonesia masih diselimuti misteri, meski sebagian tersirat seperti luka yang menganga persis korban yang pada saat itu menjadi bagian dari horor yang berlangsung.

No comments:

Berita Batam