(TULISAN INI DIMUAT DI BULLETIN MADANI DMI-KEPRI)
Maliki Yaumiddiin
oleh: Nur fahmi Magid
Ayat ini biasa diterjemahkan sebagai : Penguasa Hari Kemudian atau Pemilik Hari Kemudian.Memang makna Malik ( dibaca pendek ) adalah Raja atau Penguasa. Sedangkan Maalik ( dibaca panjang ) adalah bermakna Pemilik. Kedua cara baca itu boleh dilakukan.
Dalam ayat ini ada dua informasi yang perlu kita selami maknanya. Yang pertama Hari Kemudian. Dan yang kedua adalah Penguasa sekaligus Pemilik.
Pada bagian yang pertama, Allah mengingatkan kepada kita bahwa kehidupan di Dunia ini sebenarnya belum final. Ada kehidupan yang kedua yang justru " lebih kekal " dan lebih baik. Karena itu jangan sampai terjebak pada kehidupan dunia. Kita bisa mengalami masalah serius pada kehidupan kedua kita nanti. Tapi bagi yang menyadari bahwa kehidupan Dunia hanya sementara, serta menjadikannya sebagai perjuangan untuk kehidupan berikutnya, maka mereka akan berbahagia di " Hari Kemudian '. Sungguh Kebahagiaan Dunia hanya semu belaka, sedangkan kebahagiaan akhirat bersifat lebih kekal dan lebih baik.
Sementara itu, Allah juga mengatakan bahwa Dia adalah Penguasa dan sekaligus Pemilik " Hari Kemudian ". Artinya , Allah ingin menegaskan kepada kita, kalau ingin selamat dan berbahagia di Hari Kemudian, mintalah petunjuk dan pertolongan kepada-NYA sebab Dialah yang paling tahu tentang Hari Kemudian itu. Jangan meminta kepada yang lain.
Berbicara tentang meminta kepada Allah, maka untuk mempertegas hal ini, perlu kita lihat ayat selanjutnya, yakni: Iyyaaka na'budu wa iyyaaka nasta'iin. Yang artinya, hanya kepadaMu kami mengabdi dan hanya padaMu kami minta pertolongan.
Ayat tersebut mengandung pengajaran untuk bertauhid hanya kepada Allah. Janganlah mengabdi kepada yang lain, selain Allah yang Maha Besar. Kita memang mesti melandasi keyakinan tauhid kita dengan logika yang baik. Seperti Firman Allah pada ayat berikut ini:
''Janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah, tuhan apapun yang lain. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Bagi-Nya lah segala penentuan, dan hanya kepada-Nya lah kamu dikembalikan,'' (QS Al Qashash: 88)
Ini adalah ayat yang menarik untuk dikaji. Hanya saja, penulis sengaja mengambil salah satu sisinya saja. Allah mengatakan pada ayat tersebut, janganlah kita menyembah Tuhan yang lain selain Allah, karena segala sesuatu selain Allah bakal binasa. Jadi kenapa kita musti bertuhan pada sesuatu yang tidak kekal. Hanya Allah-lah yang layak kita jadikan Tuhan.
Inilah setidak-tidaknya yang mesti terbayang dan hidup dalam benak kita ketika melakukan sholat. Terutama pada saat membaca Al Fatihah.
Showing posts with label Bulletin Jum'at. Show all posts
Showing posts with label Bulletin Jum'at. Show all posts
Thursday, June 25, 2009
Dibalik Bacaan Hamdalah
Dibalik Bacaan Hamdalah (tulisan ini dimuat di Bulletin Madani DMI -KEpri)
Oleh: Nur Fahmi Magid
Pada edisi sebelumnya kita telah mencoba untuk mencari makna dibalik bacaanj Basmalah, untuk itu, saat ini redaksi akan mencoba untuk meneruskan pada bacaan berikutnya, yakni hamdalah. Alhamdulillahi rabbil'aalamiin. Kalimat tersebut seringkali kita ucapkan saat kita mensyukuri sesuatu. Jika bacaan basmalah membawa nuansa hati kita kepada kasih sayang Allah dan segala sifat pemurahNya, maka hamdalah ini memberikan penegasan dengan cara mengucapkan terima kasih kepadaNya.
Kesadaran tentang betapa banyaknya nikmat yang kita terima dariNya, semestinya kita gunakan untuk menyulut hati kita agar memahami makna saat mengucapkan Alahamdulillahi rabbil'aalamiin. ''Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam''
Maka, nuansa yang muncul dalam bacaam Hamdalah atau ayat kedua dari surat Al Fatihah itu adalah rasa syukur yang mendalam atas segala nikmatNya. Kepada siapa kita ucapkan rasa syukur tersebut? tentu saja, kepada Allah sang penguasa alam semesta.
Disini muncul penegasan berikutnya, dimana Allah yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang itu adalah dzat yang mengendalikandan memelihara segala yang ada ini. Dan karena itu, Dia adalah dzat yang mengetahui kunci segala rahasia yang terkandung didalamnya. Sebagaimana digambarkan dalam Firmannya:
''Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah'' (QS Thahaa : 6)
'' Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rezeki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas,'' (QS. Al Baqarah : 212)
'' Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat lalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)''.(QS. Ibrahim:34)
Selain itu, bacaan hamdalah juga memberikan gambaran pada kita bahwa Allah adalah tuhan yang tidak pernah menganggur. Ia adalah tuhan yang selalu dalam kesibukan mengendalikan segala kejadian dan peristiwa yang terjadi diseluruh penjuru alam, yang jumlahnya bertriliun-triliunan kejadian atau malah tak berhingga. Dalam detik ini saja, Allah telah mengendalikan banyak hal dengan jumlah tak terhingga. Mulai dari mengatur kerja jantung kita, menjaganya agar tetap berdenyut, paru-paru kita di program untuk terus membantu pernafasan, otak, sampai pada menentukan gerakan benda langit sekaligus yang jumlahnya tentu saja tak berhingga, menakdirkan kelahiran mahluk, juga kematian mahluknya, memberikan rejeki, serta masih banyak lagi peristiwa di alam semesta ini. Jumlahnya tidak akan pernah bisa dihitung sebagaimana Allah berifirman:
''Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering) nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana''.(QS Luqman : 27)
Maka sudah sepatutnya, kita sebagai mahluk harus senantiasa mengucapkan kalimat hamdalah, Alhamdulillahi rabbil'aalamiin, sebagai ungkapan rasa syukur kita atas segala nikmat yang diberikan Allah SWT baik yang kasat mata maupun nikmat yang tak kasat mata.
Oleh: Nur Fahmi Magid
Pada edisi sebelumnya kita telah mencoba untuk mencari makna dibalik bacaanj Basmalah, untuk itu, saat ini redaksi akan mencoba untuk meneruskan pada bacaan berikutnya, yakni hamdalah. Alhamdulillahi rabbil'aalamiin. Kalimat tersebut seringkali kita ucapkan saat kita mensyukuri sesuatu. Jika bacaan basmalah membawa nuansa hati kita kepada kasih sayang Allah dan segala sifat pemurahNya, maka hamdalah ini memberikan penegasan dengan cara mengucapkan terima kasih kepadaNya.
Kesadaran tentang betapa banyaknya nikmat yang kita terima dariNya, semestinya kita gunakan untuk menyulut hati kita agar memahami makna saat mengucapkan Alahamdulillahi rabbil'aalamiin. ''Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam''
Maka, nuansa yang muncul dalam bacaam Hamdalah atau ayat kedua dari surat Al Fatihah itu adalah rasa syukur yang mendalam atas segala nikmatNya. Kepada siapa kita ucapkan rasa syukur tersebut? tentu saja, kepada Allah sang penguasa alam semesta.
Disini muncul penegasan berikutnya, dimana Allah yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang itu adalah dzat yang mengendalikandan memelihara segala yang ada ini. Dan karena itu, Dia adalah dzat yang mengetahui kunci segala rahasia yang terkandung didalamnya. Sebagaimana digambarkan dalam Firmannya:
''Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah'' (QS Thahaa : 6)
'' Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rezeki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas,'' (QS. Al Baqarah : 212)
'' Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat lalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)''.(QS. Ibrahim:34)
Selain itu, bacaan hamdalah juga memberikan gambaran pada kita bahwa Allah adalah tuhan yang tidak pernah menganggur. Ia adalah tuhan yang selalu dalam kesibukan mengendalikan segala kejadian dan peristiwa yang terjadi diseluruh penjuru alam, yang jumlahnya bertriliun-triliunan kejadian atau malah tak berhingga. Dalam detik ini saja, Allah telah mengendalikan banyak hal dengan jumlah tak terhingga. Mulai dari mengatur kerja jantung kita, menjaganya agar tetap berdenyut, paru-paru kita di program untuk terus membantu pernafasan, otak, sampai pada menentukan gerakan benda langit sekaligus yang jumlahnya tentu saja tak berhingga, menakdirkan kelahiran mahluk, juga kematian mahluknya, memberikan rejeki, serta masih banyak lagi peristiwa di alam semesta ini. Jumlahnya tidak akan pernah bisa dihitung sebagaimana Allah berifirman:
''Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering) nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana''.(QS Luqman : 27)
Maka sudah sepatutnya, kita sebagai mahluk harus senantiasa mengucapkan kalimat hamdalah, Alhamdulillahi rabbil'aalamiin, sebagai ungkapan rasa syukur kita atas segala nikmat yang diberikan Allah SWT baik yang kasat mata maupun nikmat yang tak kasat mata.
Memahami Kalimat Basmalah
Bissmillahi rrahmaani rrahim. Kalimat basmalah adalah kalimat yang dianjurkan kepada kita untuk selalu mengucapkannya ketika akan memulai pekerjaan atau perbuatan baik.
Kalimat basmalah ini termasuk kalimat universal yang menggambarkan betapa Allah adalah tuhan yang selalu memberikan kasih sayangnya yang tidak berhingga kepada seluruh mahlukNya.
Ada dua sifat yang Allah perkenalkan melalui bacaan basmalah, yakni Ar Rahman dan Ar Rahim. Kedua kalimat ini menurut Qurish Shihab dalam tafsir Al Misbah, vol 1, berasal dari akar kata yang sama, yaitu Rahim. Kedua kata itu sendiri memiliki makna yang hampir sama, yaitu sifat Allah yang penuh kasih sayang kepada segala mahlukNya. Hanya saja bedanya, jika Ar Rahman menunjuk pada kasih sayang yang telah dicurahkan kepada mahluknya, sedangkan Ar Rahim lebih menunjukan sifat kasih sayang yang melekat pada DzatNya. Dengan kata lain, Allah memiliki sifat Ar Rahim, yang kemudian diberikan kepada mahlukNya lewat sifat Ar Rahman.
Dengan menyebut dua sifat tersebut, Allah sepertinya ingin menegaskan pada kita semua bahwa Dia Dzat yang benar-benar menyayangi dan mengasihi mahlukNya. Bukan hanya bersifat kasih sayang, tapi juga memberikan kasih sayang itu pada mahlukNya tanpa batas.
Betapa banyak kasih sayang Allah SWT yang telah diberikan kepada kita semua, meski kita tidak memintanya, yang jika kita uraikan, mungkin ribuan lembar buku tak cukup untuk menulis satu persatu kasih sayang Allah SWT yang telah diberikan kepada kita semua. Sebagai contoh, penulis ingin menggambarkan salah satu bentuk kasih sayang Allah SWT, yakni soal kesehatan kita.
Pernakah anda berfikir soal denyut jantung di dalam dada kita? Siapakah yang mengatur denyut itu, padahal kita tidak pernah memintanya. Semua sudah diatur Allah mengikuti kondisi tubuh kita. Anda bisa merasakan betapa Allah SWT telah menjaga denyut jantung kita sedemikian rupa sehingga kesehatan kita tetap terjaga. Semua berjalan sangat sempurna dalam tubuh kita. Bayangkan betapa canggihnya Allah SWT mengendalikan semua organ dalam tubuh kita secara harmonis. Kebutuhan zat-zat dalam otot disuplai oleh jenatung lewat darah, namun oksigennya dikendalikan berdasarkan gerak paru-paru, dalam waktu bersamaan, kelenjar keringat diaktifkan untuk menurunkan suhu badan kita saat beraktifitas. Sungguh jika kita bayangkan, semua sistem berjalan tanpa ada satu cacat pun.
Satu contoh saja yang kita ungkapkan, namun penulis yakin, kita sudah bisa merasakan betapa Allah SWT maha Rahman dan Maha Rahim. Dia adalah Dzat yang maha pemberi lewat sifatNya yang Maha Pemurah dan Maha Menyayangi.
Untuk membangun perasaan kita bahwa Allah adalah Rahman dan Rahim, memang kita harus memberikan contoh sebanyak-banyaknya dalam realitas kehidupan. Penulis yakin, kita semua sudah memiliki pengalaman masing-,masing yang mengesankan terkait dengan memahami sifat Allah yang Rahman dan Rahim. Mungkin itu berkaitan dengan rejeki, perkerjaan, kesehatan, keluarga, dll. Gunakanlah pengalaman tersebut untuk membangun 'rasa' Rahman dan Rahim Allah dalam benak kita, terutama saat mengucapkan kalimat basmalah diawal sholat. Insya Allah kita bakal merasakan kehadiranNya dalam sholat yang khusuk.
Kalimat basmalah ini termasuk kalimat universal yang menggambarkan betapa Allah adalah tuhan yang selalu memberikan kasih sayangnya yang tidak berhingga kepada seluruh mahlukNya.
Ada dua sifat yang Allah perkenalkan melalui bacaan basmalah, yakni Ar Rahman dan Ar Rahim. Kedua kalimat ini menurut Qurish Shihab dalam tafsir Al Misbah, vol 1, berasal dari akar kata yang sama, yaitu Rahim. Kedua kata itu sendiri memiliki makna yang hampir sama, yaitu sifat Allah yang penuh kasih sayang kepada segala mahlukNya. Hanya saja bedanya, jika Ar Rahman menunjuk pada kasih sayang yang telah dicurahkan kepada mahluknya, sedangkan Ar Rahim lebih menunjukan sifat kasih sayang yang melekat pada DzatNya. Dengan kata lain, Allah memiliki sifat Ar Rahim, yang kemudian diberikan kepada mahlukNya lewat sifat Ar Rahman.
Dengan menyebut dua sifat tersebut, Allah sepertinya ingin menegaskan pada kita semua bahwa Dia Dzat yang benar-benar menyayangi dan mengasihi mahlukNya. Bukan hanya bersifat kasih sayang, tapi juga memberikan kasih sayang itu pada mahlukNya tanpa batas.
Betapa banyak kasih sayang Allah SWT yang telah diberikan kepada kita semua, meski kita tidak memintanya, yang jika kita uraikan, mungkin ribuan lembar buku tak cukup untuk menulis satu persatu kasih sayang Allah SWT yang telah diberikan kepada kita semua. Sebagai contoh, penulis ingin menggambarkan salah satu bentuk kasih sayang Allah SWT, yakni soal kesehatan kita.
Pernakah anda berfikir soal denyut jantung di dalam dada kita? Siapakah yang mengatur denyut itu, padahal kita tidak pernah memintanya. Semua sudah diatur Allah mengikuti kondisi tubuh kita. Anda bisa merasakan betapa Allah SWT telah menjaga denyut jantung kita sedemikian rupa sehingga kesehatan kita tetap terjaga. Semua berjalan sangat sempurna dalam tubuh kita. Bayangkan betapa canggihnya Allah SWT mengendalikan semua organ dalam tubuh kita secara harmonis. Kebutuhan zat-zat dalam otot disuplai oleh jenatung lewat darah, namun oksigennya dikendalikan berdasarkan gerak paru-paru, dalam waktu bersamaan, kelenjar keringat diaktifkan untuk menurunkan suhu badan kita saat beraktifitas. Sungguh jika kita bayangkan, semua sistem berjalan tanpa ada satu cacat pun.
Satu contoh saja yang kita ungkapkan, namun penulis yakin, kita sudah bisa merasakan betapa Allah SWT maha Rahman dan Maha Rahim. Dia adalah Dzat yang maha pemberi lewat sifatNya yang Maha Pemurah dan Maha Menyayangi.
Untuk membangun perasaan kita bahwa Allah adalah Rahman dan Rahim, memang kita harus memberikan contoh sebanyak-banyaknya dalam realitas kehidupan. Penulis yakin, kita semua sudah memiliki pengalaman masing-,masing yang mengesankan terkait dengan memahami sifat Allah yang Rahman dan Rahim. Mungkin itu berkaitan dengan rejeki, perkerjaan, kesehatan, keluarga, dll. Gunakanlah pengalaman tersebut untuk membangun 'rasa' Rahman dan Rahim Allah dalam benak kita, terutama saat mengucapkan kalimat basmalah diawal sholat. Insya Allah kita bakal merasakan kehadiranNya dalam sholat yang khusuk.
Dibalik Bacaan Hamdalah
(TULISAN INI DIMUAT DALAM BULLETIN MADANI -DEWAN MASJID PROVINSI KEPRI)
oleh: Nur Fahmi Magid
Pada edisi sebelumnya kita telah mencoba untuk mencari makna dibalik bacaanj Basmalah, untuk itu, saat ini redaksi akan mencoba untuk meneruskan pada bacaan berikutnya, yakni hamdalah. Alhamdulillahi rabbil'aalamiin. Kalimat tersebut seringkali kita ucapkan saat kita mensyukuri sesuatu. Jika bacaan basmalah membawa nuansa hati kita kepada kasih sayang Allah dan segala sifat pemurahNya, maka hamdalah ini memberikan penegasan dengan cara mengucapkan terima kasih kepadaNya.
Kesadaran tentang betapa banyaknya nikmat yang kita terima dariNya, semestinya kita gunakan untuk menyulut hati kita agar memahami makna saat mengucapkan Alahamdulillahi rabbil'aalamiin. ''Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam''
Maka, nuansa yang muncul dalam bacaam Hamdalah atau ayat kedua dari surat Al Fatihah itu adalah rasa syukur yang mendalam atas segala nikmatNya. Kepada siapa kita ucapkan rasa syukur tersebut? tentu saja, kepada Allah sang penguasa alam semesta.
Disini muncul penegasan berikutnya, dimana Allah yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang itu adalah dzat yang mengendalikandan memelihara segala yang ada ini. Dan karena itu, Dia adalah dzat yang mengetahui kunci segala rahasia yang terkandung didalamnya. Sebagaimana digambarkan dalam Firmannya:
''Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah'' (QS Thahaa : 6)
'' Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rezeki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas,'' (QS. Al Baqarah : 212)
'' Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat lalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)''.(QS. Ibrahim:34)
Selain itu, bacaan hamdalah juga memberikan gambaran pada kita bahwa Allah adalah tuhan yang tidak pernah menganggur. Ia adalah tuhan yang selalu dalam kesibukan mengendalikan segala kejadian dan peristiwa yang terjadi diseluruh penjuru alam, yang jumlahnya bertriliun-triliunan kejadian atau malah tak berhingga. Dalam detik ini saja, Allah telah mengendalikan banyak hal dengan jumlah tak terhingga. Mulai dari mengatur kerja jantung kita, menjaganya agar tetap berdenyut, paru-paru kita di program untuk terus membantu pernafasan, otak, sampai pada menentukan gerakan benda langit sekaligus yang jumlahnya tentu saja tak berhingga, menakdirkan kelahiran mahluk, juga kematian mahluknya, memberikan rejeki, serta masih banyak lagi peristiwa di alam semesta ini. Jumlahnya tidak akan pernah bisa dihitung sebagaimana Allah berifirman:
''Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering) nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana''.(QS Luqman : 27)
Maka sudah sepatutnya, kita sebagai mahluk harus senantiasa mengucapkan kalimat hamdalah, Alhamdulillahi rabbil'aalamiin, sebagai ungkapan rasa syukur kita atas segala nikmat yang diberikan Allah SWT baik yang kasat mata maupun nikmat yang tak kasat mata.
oleh: Nur Fahmi Magid
Pada edisi sebelumnya kita telah mencoba untuk mencari makna dibalik bacaanj Basmalah, untuk itu, saat ini redaksi akan mencoba untuk meneruskan pada bacaan berikutnya, yakni hamdalah. Alhamdulillahi rabbil'aalamiin. Kalimat tersebut seringkali kita ucapkan saat kita mensyukuri sesuatu. Jika bacaan basmalah membawa nuansa hati kita kepada kasih sayang Allah dan segala sifat pemurahNya, maka hamdalah ini memberikan penegasan dengan cara mengucapkan terima kasih kepadaNya.
Kesadaran tentang betapa banyaknya nikmat yang kita terima dariNya, semestinya kita gunakan untuk menyulut hati kita agar memahami makna saat mengucapkan Alahamdulillahi rabbil'aalamiin. ''Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam''
Maka, nuansa yang muncul dalam bacaam Hamdalah atau ayat kedua dari surat Al Fatihah itu adalah rasa syukur yang mendalam atas segala nikmatNya. Kepada siapa kita ucapkan rasa syukur tersebut? tentu saja, kepada Allah sang penguasa alam semesta.
Disini muncul penegasan berikutnya, dimana Allah yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang itu adalah dzat yang mengendalikandan memelihara segala yang ada ini. Dan karena itu, Dia adalah dzat yang mengetahui kunci segala rahasia yang terkandung didalamnya. Sebagaimana digambarkan dalam Firmannya:
''Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah'' (QS Thahaa : 6)
'' Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rezeki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas,'' (QS. Al Baqarah : 212)
'' Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat lalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)''.(QS. Ibrahim:34)
Selain itu, bacaan hamdalah juga memberikan gambaran pada kita bahwa Allah adalah tuhan yang tidak pernah menganggur. Ia adalah tuhan yang selalu dalam kesibukan mengendalikan segala kejadian dan peristiwa yang terjadi diseluruh penjuru alam, yang jumlahnya bertriliun-triliunan kejadian atau malah tak berhingga. Dalam detik ini saja, Allah telah mengendalikan banyak hal dengan jumlah tak terhingga. Mulai dari mengatur kerja jantung kita, menjaganya agar tetap berdenyut, paru-paru kita di program untuk terus membantu pernafasan, otak, sampai pada menentukan gerakan benda langit sekaligus yang jumlahnya tentu saja tak berhingga, menakdirkan kelahiran mahluk, juga kematian mahluknya, memberikan rejeki, serta masih banyak lagi peristiwa di alam semesta ini. Jumlahnya tidak akan pernah bisa dihitung sebagaimana Allah berifirman:
''Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering) nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana''.(QS Luqman : 27)
Maka sudah sepatutnya, kita sebagai mahluk harus senantiasa mengucapkan kalimat hamdalah, Alhamdulillahi rabbil'aalamiin, sebagai ungkapan rasa syukur kita atas segala nikmat yang diberikan Allah SWT baik yang kasat mata maupun nikmat yang tak kasat mata.
Air Hujan Dan Nikmat Allah Untuk Manusia
....(Tulisan ini dimuat di Bulletin Madani Dewan Masjid Indonesia-Provinsi Kepri edisi 20)
Oleh: Nur Fahmi Magid
Pernahkan kita berpikir tentang hujan?Fenomena alam yang biasa kita alami itu sungguh menyimpan berbagai proses yang mengagumkan. Allah berfirman di dalam Qur'an :
" Dan yang menurunkan air dari langit menurut kadar ( tertentu ) lalu Kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah Kamu akan dikeluarkan ( dari kubur )," (QS. Az Zukhruf : 11)
Dalam firman-Nya diatas Allah mengatakan bahwa Allah mengukur kadar hujan. Pernahkah kita berpikir seandainya hujan diturunkan secara tidak terukur ke permukaan bumi?Dampaknya sungguh sangatlah dasyat.
Hujan berasal dari awan. Di awan itu terkandung jutaan ton air hujan. Bayangkan, berjuta-juta ton air sedang bergelayutan di atas kepala kita pada ketinggian beberapa kilometer. Kenapa jutaan ton air itu tidak berjatuhan ke bumi?Karena Allah membuat mekanisme yang sangat canggih.
''Tidakkah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian) nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan'' (QS An Nur: 43)
Dalam Ilmu pengetahuan modern, Air dari permukaan Bumi dirubah terlebih dahulu menjadi uap air yang memiliki berat jenis lebih ringan dari udara. Sehingga uap air itu bergerak ke angkasa. Di ketinggian tertentu, uap air itu lantas bergumul dengan uap air yang lain, yang berasal dari berbagai daerah di permukaan bumi. Di langit itu Allah mengarak jutaan ton uap air menuju daerah yang dikehendaki, dengan menggunakan kekuatan angin. Anginnya bergerak dikarenakan perputaran Bumi yang miring pada sumbunya sebesar 23,5 derajat.
Berapa besar kekuatan yang menggerakkan awan itu sehingga bisa menghidupkan daerah-daerah yang tandus. Kalau seandainya kita melakukan sendiri mekanisme itu, betapa besarnya biaya yang kita keluarkan. Tapi Allah memberikan semua itu gratis kepada kita semua. Dari hujan kehidupan di bumi dijalankan. Allah berfirman:
''Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.'' (QS Al A'raf:5)
''Apakah kamu tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, maka diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi kemudian ditumbuhkan-Nya dengan air itu tanam-tanaman yang bermacam-macam warnanya, lalu ia menjadi kering lalu kamu melihatnya kekuning-kuningan, kemudian dijadikan-Nya hancur berderai-derai. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.'' (QS Az Zumar: 21)
Pada zaman modern ini, manusia sudah mulai melakukan penyulingan air dengan mencontoh mekanisme turunya hujan. Hal ini misalnya, dilakukan oleh pemerintah Arab Saudi. Mereka berusaha memindahkan air tawar yang disuling dari lautan menuju ke daratan. Maka, dibikinlah pipa-pipa dan proses penjernihan air dalam skala yang sangat besar. Biayanya tentu luar biasa. Namun Allah dengan sangat gampangnya melakukan itu semua secara terus menerus, sejak berjuta-juta tahun yang lalu, untuk menghidupi seluruh makhluk-NYA dimuka planet bumi ini.
''Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan) dan Kami turunkan hujan dari langit, lalu Kami beri minum kamu dengan air itu, dan sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya,'' (QS Al Hijr: 22)
Dari proses terjadinya hujanlah Allah menyediakan air bersih bagi semua mahluk hidup di dunia ini. Ini adalah nikmat yang tak terhingga. Sebagaimana Allah telah menegaskan dalam ayat berikut ini:
''Dialah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira dekat sebelum kedatangan rahmat-nya (hujan); dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih,'' (QS Al Furqaan: 25)
Cara Allah menurunkan air hujan ke bumi pun dilakukan-NYA dengan sangant " santun " dan terukur. Bayangkan kalau Allah menghendaki air hujan yang jumlahnya jutaan ton itu turun secara sekaligus, seperti sebuah air terjun, di suatu daerah tertentu. Kita tidak bisa membayangkan betepa akan hancur lebur daerah itu, diterjang oleh air bah yang jatuh dari langit.
Allah telah mengukur jatuhnya air itu. Baik dalam jumlahnya maupun dalam mekanismenya. Jika suatu daerah sudah " dirasa " cukup memperoleh siraman air hujan, maka Allah menghentikanya. Dia memindahkan guyuran air hujan itu ke daerah lain yang membutuhkannya. Jika tidak, tentu daerah itu akan mengalami banjir yang tidak terkira.
''Dan Kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran; lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi, dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa menghilangkannya.'' (QS Al Mu'minun: 23)
Allah menggiring uap air dari lautan ke daratan. Sebagian besar turun di gunung-gunung, kemudian menghasilkan sejumlah mata air yang sangat berguna pada musim kemarau. Air itu mengalir lewat sungai-sungai, dan bisa dimanfaatkan untuk kehidupan manusia di luar musim hujan. Selain dalam hal jumlah, mekanisme turunnya air hujan itu juga memunculkan rasa kagum kita. Kenapa air hujan turun sebagai butiran-butiran? Barangkali, diantara kita ada yang menjawab : kalau seandainya air hujan iti turun sekaligus seperti air bah, maka bisa dipastikan hidup kita akan terancam. Akan terjadi bencana yang sangat dasyat di muka bumi ini, setiap kali musim hujan.
Namun demikian, pernahkan kita mencermati tentang butiran-butiran air hujan itu? Proses pendinginan yang tidak seragam terhadap uap air yang terkandung di dalam awan dan jarak jatuh air dari awan ke permukaan bumi telah menyebabkab air hujan itu jatuh tercerai berai menjadi butiran air yang berukuran kecil. Sebenarnya jika kita gunakan logika biasa, meskipun butiran air hujan cukup kecil, jika jatuh dari jarak yang sedemikian tinggi, masih berbahaya. Butiran itu bisa berlaku bagaikan peluru yang turun dari langit akibat terjadinya percepatan secara terus menerus. Namun, karna kebesaran Allah, maka butiran itu dijadikan tidak berbahaya. Dalam catatan Ilmu pengetahuan modern, kecepatan air hujan hanya berkisar 8 KM perjam. Ini sungguh merupakan tanda kasih sayang Allah pada kita semua.
'
Oleh: Nur Fahmi Magid
Pernahkan kita berpikir tentang hujan?Fenomena alam yang biasa kita alami itu sungguh menyimpan berbagai proses yang mengagumkan. Allah berfirman di dalam Qur'an :
" Dan yang menurunkan air dari langit menurut kadar ( tertentu ) lalu Kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah Kamu akan dikeluarkan ( dari kubur )," (QS. Az Zukhruf : 11)
Dalam firman-Nya diatas Allah mengatakan bahwa Allah mengukur kadar hujan. Pernahkah kita berpikir seandainya hujan diturunkan secara tidak terukur ke permukaan bumi?Dampaknya sungguh sangatlah dasyat.
Hujan berasal dari awan. Di awan itu terkandung jutaan ton air hujan. Bayangkan, berjuta-juta ton air sedang bergelayutan di atas kepala kita pada ketinggian beberapa kilometer. Kenapa jutaan ton air itu tidak berjatuhan ke bumi?Karena Allah membuat mekanisme yang sangat canggih.
''Tidakkah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian) nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan'' (QS An Nur: 43)
Dalam Ilmu pengetahuan modern, Air dari permukaan Bumi dirubah terlebih dahulu menjadi uap air yang memiliki berat jenis lebih ringan dari udara. Sehingga uap air itu bergerak ke angkasa. Di ketinggian tertentu, uap air itu lantas bergumul dengan uap air yang lain, yang berasal dari berbagai daerah di permukaan bumi. Di langit itu Allah mengarak jutaan ton uap air menuju daerah yang dikehendaki, dengan menggunakan kekuatan angin. Anginnya bergerak dikarenakan perputaran Bumi yang miring pada sumbunya sebesar 23,5 derajat.
Berapa besar kekuatan yang menggerakkan awan itu sehingga bisa menghidupkan daerah-daerah yang tandus. Kalau seandainya kita melakukan sendiri mekanisme itu, betapa besarnya biaya yang kita keluarkan. Tapi Allah memberikan semua itu gratis kepada kita semua. Dari hujan kehidupan di bumi dijalankan. Allah berfirman:
''Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.'' (QS Al A'raf:5)
''Apakah kamu tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, maka diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi kemudian ditumbuhkan-Nya dengan air itu tanam-tanaman yang bermacam-macam warnanya, lalu ia menjadi kering lalu kamu melihatnya kekuning-kuningan, kemudian dijadikan-Nya hancur berderai-derai. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.'' (QS Az Zumar: 21)
Pada zaman modern ini, manusia sudah mulai melakukan penyulingan air dengan mencontoh mekanisme turunya hujan. Hal ini misalnya, dilakukan oleh pemerintah Arab Saudi. Mereka berusaha memindahkan air tawar yang disuling dari lautan menuju ke daratan. Maka, dibikinlah pipa-pipa dan proses penjernihan air dalam skala yang sangat besar. Biayanya tentu luar biasa. Namun Allah dengan sangat gampangnya melakukan itu semua secara terus menerus, sejak berjuta-juta tahun yang lalu, untuk menghidupi seluruh makhluk-NYA dimuka planet bumi ini.
''Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan) dan Kami turunkan hujan dari langit, lalu Kami beri minum kamu dengan air itu, dan sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya,'' (QS Al Hijr: 22)
Dari proses terjadinya hujanlah Allah menyediakan air bersih bagi semua mahluk hidup di dunia ini. Ini adalah nikmat yang tak terhingga. Sebagaimana Allah telah menegaskan dalam ayat berikut ini:
''Dialah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira dekat sebelum kedatangan rahmat-nya (hujan); dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih,'' (QS Al Furqaan: 25)
Cara Allah menurunkan air hujan ke bumi pun dilakukan-NYA dengan sangant " santun " dan terukur. Bayangkan kalau Allah menghendaki air hujan yang jumlahnya jutaan ton itu turun secara sekaligus, seperti sebuah air terjun, di suatu daerah tertentu. Kita tidak bisa membayangkan betepa akan hancur lebur daerah itu, diterjang oleh air bah yang jatuh dari langit.
Allah telah mengukur jatuhnya air itu. Baik dalam jumlahnya maupun dalam mekanismenya. Jika suatu daerah sudah " dirasa " cukup memperoleh siraman air hujan, maka Allah menghentikanya. Dia memindahkan guyuran air hujan itu ke daerah lain yang membutuhkannya. Jika tidak, tentu daerah itu akan mengalami banjir yang tidak terkira.
''Dan Kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran; lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi, dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa menghilangkannya.'' (QS Al Mu'minun: 23)
Allah menggiring uap air dari lautan ke daratan. Sebagian besar turun di gunung-gunung, kemudian menghasilkan sejumlah mata air yang sangat berguna pada musim kemarau. Air itu mengalir lewat sungai-sungai, dan bisa dimanfaatkan untuk kehidupan manusia di luar musim hujan. Selain dalam hal jumlah, mekanisme turunnya air hujan itu juga memunculkan rasa kagum kita. Kenapa air hujan turun sebagai butiran-butiran? Barangkali, diantara kita ada yang menjawab : kalau seandainya air hujan iti turun sekaligus seperti air bah, maka bisa dipastikan hidup kita akan terancam. Akan terjadi bencana yang sangat dasyat di muka bumi ini, setiap kali musim hujan.
Namun demikian, pernahkan kita mencermati tentang butiran-butiran air hujan itu? Proses pendinginan yang tidak seragam terhadap uap air yang terkandung di dalam awan dan jarak jatuh air dari awan ke permukaan bumi telah menyebabkab air hujan itu jatuh tercerai berai menjadi butiran air yang berukuran kecil. Sebenarnya jika kita gunakan logika biasa, meskipun butiran air hujan cukup kecil, jika jatuh dari jarak yang sedemikian tinggi, masih berbahaya. Butiran itu bisa berlaku bagaikan peluru yang turun dari langit akibat terjadinya percepatan secara terus menerus. Namun, karna kebesaran Allah, maka butiran itu dijadikan tidak berbahaya. Dalam catatan Ilmu pengetahuan modern, kecepatan air hujan hanya berkisar 8 KM perjam. Ini sungguh merupakan tanda kasih sayang Allah pada kita semua.
'
Tuesday, March 10, 2009
Awas! Isu Fatwa Golput Telah Dibiaskan
''Media cenderung Tidak Adil Mengutip Fatwa Sensitif''
Sebagaimana kita ikuti dalam berbagai berita dan talkshow di media massa, telah terjadi wacana dan perdebatan atas fatwa MUI tentang tidak memilih di dalam Pemilu alias Golput. Satu hal yang perlu kita cermati dalam berbagai wacana dan perdebatan tersebut, penulis melihat sepertinya telah ada pembiasan informasi atau mungkin kesalahan komunikasi sehingga umumnya publik menangkap bahwa seolah-olah MUI mengeluarkan fatwa Golput Haram secara mutlak. Padahal, isi fatwa tersebut (menurut pemahaman penulis) tidaklah demikian.
Oleh karena itu, perlu sosialisasi fatwa MUI tersebut secara langsung oleh para ulama dan para muballigh dan siapa saja yang masih ingin berpegang teguh kepada agama Allah dalam menjalani kehidupannya. Isi Fatwa MUI tentang Pemilu atau yang disebut-sebut sebagai fatwa golput telah dikutip Bulletin Madani edisi sebelumnya. Pertama, poin empat dari fatwa tersebut berbunyi: Memilih pemimpin yang beriman dan bertakwa, jujur (siddiq),terpercaya (amanah), aktif dan aspiratif (tabligh), mempunyai kemampuan (fathonah), dan memperjuangan kepentingan umat Islam, hukumnya adalah wajib.
Artinya, menurut fatwa MUI tersebut, umat Islam dalam pemilu nanti wajib memilih calon Imam dan wakil rakyat yang memiliki karakteristik: beriman dan bertaqwa, jujur, terpercaya, aktif dan aspiratif, mempunyai kemampuan, dan memperjuangkan kepentingan umat Islam.
Poin ini justru tidak terekspos dengan baik di media massa sehingga tidak menjadi opini umum yang ditangkap oleh publik. Padahal poin inilah yang justru diperlukan umat sebagai petunjuk untuk memilih calon presiden (calon Imam/kepala negara) dan calon wakil rakyat. Penulis menilai, selama ini telah terjadi pembiasan. Sebab karakteristik media masa saat ini selain menyampaikan informasi, juga terkadang dalam penyampaian ataupun pengambilan angel tulisan selalu menginginkan sesuatu yang berpolemik, sehingga mencari celah dari sebuah informasi kira-kira bagian mana yang bisa dipolemik-kan. Hal itu juga yang membuat isi dari fatwa yang sebenarnya bagus akhirnya menjadi bulan-bulanan hujatan, bahkan oleh umat sendiri.
Dalam pandangan syariat Islam, melaksanakan hukum wajib berarti pelakunya dipuji dan diberi ganjaran pahala oleh Allah SWT. Sebaliknya, yang tidak melaksanakan kewajiban itu tercela, berdosa, dan akan mendapatkan balasan siksa Allah SWT.
Oleh karena itu, poin mewajibkan umat Islam memilih calon Imam dan wakil rakyat dengan kriteria di atas itu tidaklah main-main. Tentu harus dengan dasar yang kuat. Dalam fatwa MUI tersebut disebutkan antara lain dasar penetapanfatwanya dengan firman Allah SWT: ''Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (n ya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya),jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya'' (QS. An Nisa: 59).
Perintah Allah SWT mewajibkan kita taat kepada Ulil Amri dalam ayat di atas mengandung pengertian kewajiban untuk mengangkat ulil amri yang wajib ditaati itu. Sebab, kalau mengangkat ulil amri tidak wajib, maka keberadaan ulil amri itu tidak wajib pula. Dan bila ulil amri itu tidak wajib adanya, artinya bila boleh saja umat Islam tidak punya ulil amri, maka perintah Allah yang mewajibkan taat kepada ulil amri menjadi tidak bisa diamalkan. Ini tentu tidak bisa dibenarkan. Oleh karena itu, dipastikan bahwa umat Islam wajib memilih atau mengangkat ulil amri yang bertugas dan bertanggung jawab mengurus urusan kaum muslimin. Dan ulil amri yang diangkat kaum muslimin itu wajib menerapkan hukum
syariah dengan standar kebenaran Al Quran dan Sunnah Rasulullah saw. sehingga bilamana dalam pelaksanaan hukum Allah SWT dalam pemerintahannya ada perselisihan antara ulil amri dengan rakyat, maka diselesaikan di depan mahkamah yang akan mengatasi persoalan dengan merujuk kepada petunjuk Allah dan Rasul-Nya yang ada dalam Al Quran dan Sunnah.
Ulil Amri yang wajib dipilih dan diangkat oleh kaum muslimin adalah ulil Amri yang beriman dan bertqwa, yakni yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya dalam pemerintahannya. Oleh karena itu, tepat sekali Ijtima Ulama MUI di Padang Panjang mencantumkan -sebagai dasar penetapan fatwa- pernyataan Khalifah Abu Bakar dan Khalifah Umar pada saat pengangkatan mereka sebagai Khalifah yang berkuasa atas kaum muslimin.
Khalifah Abu Bakar r.a. berkata: ''Wahai sekalian manusia, jika aku dalam kebaikan maka bantulah aku, dan jika aku buruk maka ingatkanlah aku... taatilah aku selagi aku menyuruh kalian taat kepada Allah, dan jika memerintahkan kemaksiatan maka jangan taati aku. Pidato Khalifah Umar r.a.: ''Barangsiapa diantara kalian melihat aku dalam ketidaklurusan, maka luruskanlah aku''
Pada butir lima dari fatwa MUI tersebut adalah: Memilih pemimpin yang tidak memenuhi syarat-syarat sebagaimana disebutkan dalam butir 4 (empat) atau tidak memilih sama sekali padahal ada calon yang memenuhi syarat, hukumnya adalah haram. Butir ini juga tidak terkomunikasi dengan baik melalui media massa. Seolah-olah di media massa diopinikan bahwa tidak memilih alias golput secara mutlak adalah haram. Padahal yang diharamkan dalam butir ini adalah bila tidak memilih sama sekali alias golput padahal ada calon yang memenuhi syarat-syarat nomor empat yang sudah diterangkan di atas.
Untuk itu, penulis menilai bahwa dalam hal fatwa, sepertinya media masa telah berlaku tidak adil. Hanya mengutip berita dari penggalan saja, tidak sepenuhnya. Dan ini yang menjadikan isu fatwa golput menjadi bulan-bulanan dalam perdebatan, tidak hanya kalangan umat lain (yang tentu saja memiliki ketakutan jika islam bersatu menjadi kekuatan yang besar) namun juga dikalangan muslim sendiri yang sebagian besar tidak mengerti isi fatwa golput secara keseluruhan, karna memang proses sosialisasi yang minim, yang diperparah dengan ketidak adilan media masa yang hanya mengambil angel dari sebagian isi fatwa.
Sebagaimana kita ikuti dalam berbagai berita dan talkshow di media massa, telah terjadi wacana dan perdebatan atas fatwa MUI tentang tidak memilih di dalam Pemilu alias Golput. Satu hal yang perlu kita cermati dalam berbagai wacana dan perdebatan tersebut, penulis melihat sepertinya telah ada pembiasan informasi atau mungkin kesalahan komunikasi sehingga umumnya publik menangkap bahwa seolah-olah MUI mengeluarkan fatwa Golput Haram secara mutlak. Padahal, isi fatwa tersebut (menurut pemahaman penulis) tidaklah demikian.
Oleh karena itu, perlu sosialisasi fatwa MUI tersebut secara langsung oleh para ulama dan para muballigh dan siapa saja yang masih ingin berpegang teguh kepada agama Allah dalam menjalani kehidupannya. Isi Fatwa MUI tentang Pemilu atau yang disebut-sebut sebagai fatwa golput telah dikutip Bulletin Madani edisi sebelumnya. Pertama, poin empat dari fatwa tersebut berbunyi: Memilih pemimpin yang beriman dan bertakwa, jujur (siddiq),terpercaya (amanah), aktif dan aspiratif (tabligh), mempunyai kemampuan (fathonah), dan memperjuangan kepentingan umat Islam, hukumnya adalah wajib.
Artinya, menurut fatwa MUI tersebut, umat Islam dalam pemilu nanti wajib memilih calon Imam dan wakil rakyat yang memiliki karakteristik: beriman dan bertaqwa, jujur, terpercaya, aktif dan aspiratif, mempunyai kemampuan, dan memperjuangkan kepentingan umat Islam.
Poin ini justru tidak terekspos dengan baik di media massa sehingga tidak menjadi opini umum yang ditangkap oleh publik. Padahal poin inilah yang justru diperlukan umat sebagai petunjuk untuk memilih calon presiden (calon Imam/kepala negara) dan calon wakil rakyat. Penulis menilai, selama ini telah terjadi pembiasan. Sebab karakteristik media masa saat ini selain menyampaikan informasi, juga terkadang dalam penyampaian ataupun pengambilan angel tulisan selalu menginginkan sesuatu yang berpolemik, sehingga mencari celah dari sebuah informasi kira-kira bagian mana yang bisa dipolemik-kan. Hal itu juga yang membuat isi dari fatwa yang sebenarnya bagus akhirnya menjadi bulan-bulanan hujatan, bahkan oleh umat sendiri.
Dalam pandangan syariat Islam, melaksanakan hukum wajib berarti pelakunya dipuji dan diberi ganjaran pahala oleh Allah SWT. Sebaliknya, yang tidak melaksanakan kewajiban itu tercela, berdosa, dan akan mendapatkan balasan siksa Allah SWT.
Oleh karena itu, poin mewajibkan umat Islam memilih calon Imam dan wakil rakyat dengan kriteria di atas itu tidaklah main-main. Tentu harus dengan dasar yang kuat. Dalam fatwa MUI tersebut disebutkan antara lain dasar penetapanfatwanya dengan firman Allah SWT: ''Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (n ya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya),jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya'' (QS. An Nisa: 59).
Perintah Allah SWT mewajibkan kita taat kepada Ulil Amri dalam ayat di atas mengandung pengertian kewajiban untuk mengangkat ulil amri yang wajib ditaati itu. Sebab, kalau mengangkat ulil amri tidak wajib, maka keberadaan ulil amri itu tidak wajib pula. Dan bila ulil amri itu tidak wajib adanya, artinya bila boleh saja umat Islam tidak punya ulil amri, maka perintah Allah yang mewajibkan taat kepada ulil amri menjadi tidak bisa diamalkan. Ini tentu tidak bisa dibenarkan. Oleh karena itu, dipastikan bahwa umat Islam wajib memilih atau mengangkat ulil amri yang bertugas dan bertanggung jawab mengurus urusan kaum muslimin. Dan ulil amri yang diangkat kaum muslimin itu wajib menerapkan hukum
syariah dengan standar kebenaran Al Quran dan Sunnah Rasulullah saw. sehingga bilamana dalam pelaksanaan hukum Allah SWT dalam pemerintahannya ada perselisihan antara ulil amri dengan rakyat, maka diselesaikan di depan mahkamah yang akan mengatasi persoalan dengan merujuk kepada petunjuk Allah dan Rasul-Nya yang ada dalam Al Quran dan Sunnah.
Ulil Amri yang wajib dipilih dan diangkat oleh kaum muslimin adalah ulil Amri yang beriman dan bertqwa, yakni yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya dalam pemerintahannya. Oleh karena itu, tepat sekali Ijtima Ulama MUI di Padang Panjang mencantumkan -sebagai dasar penetapan fatwa- pernyataan Khalifah Abu Bakar dan Khalifah Umar pada saat pengangkatan mereka sebagai Khalifah yang berkuasa atas kaum muslimin.
Khalifah Abu Bakar r.a. berkata: ''Wahai sekalian manusia, jika aku dalam kebaikan maka bantulah aku, dan jika aku buruk maka ingatkanlah aku... taatilah aku selagi aku menyuruh kalian taat kepada Allah, dan jika memerintahkan kemaksiatan maka jangan taati aku. Pidato Khalifah Umar r.a.: ''Barangsiapa diantara kalian melihat aku dalam ketidaklurusan, maka luruskanlah aku''
Pada butir lima dari fatwa MUI tersebut adalah: Memilih pemimpin yang tidak memenuhi syarat-syarat sebagaimana disebutkan dalam butir 4 (empat) atau tidak memilih sama sekali padahal ada calon yang memenuhi syarat, hukumnya adalah haram. Butir ini juga tidak terkomunikasi dengan baik melalui media massa. Seolah-olah di media massa diopinikan bahwa tidak memilih alias golput secara mutlak adalah haram. Padahal yang diharamkan dalam butir ini adalah bila tidak memilih sama sekali alias golput padahal ada calon yang memenuhi syarat-syarat nomor empat yang sudah diterangkan di atas.
Untuk itu, penulis menilai bahwa dalam hal fatwa, sepertinya media masa telah berlaku tidak adil. Hanya mengutip berita dari penggalan saja, tidak sepenuhnya. Dan ini yang menjadikan isu fatwa golput menjadi bulan-bulanan dalam perdebatan, tidak hanya kalangan umat lain (yang tentu saja memiliki ketakutan jika islam bersatu menjadi kekuatan yang besar) namun juga dikalangan muslim sendiri yang sebagian besar tidak mengerti isi fatwa golput secara keseluruhan, karna memang proses sosialisasi yang minim, yang diperparah dengan ketidak adilan media masa yang hanya mengambil angel dari sebagian isi fatwa.
Monday, March 2, 2009
Al Qur'an Ruh-nya Ilmu Pengetahuan
''Katakanlah: Apakah sama orang-orang yang berpengetahuan dengan orang-orang yang tidak berpengetahuan.'' (QS Az Zumar Ayat 9)
Potongan dari ayat diatas adalah salah-satu bentuk teguran Allah SWT agar manusia senantiasa mempelajari ilmu pengetahuan (sains) terutama yang tertuang dalam sabda Allah di Al Qur'an. Ayat tersebut juga merupakan penekanan atas keunggulan 'orang alim' yang memiliki Ilmu pengetahuan. Seharusnya teguran-teguran seperti itu membuat masyarakat muslim menyadari betapa pentingnya mempelajari sains, juga menjadi sebuah pendorong untuk lebih berfikir secara ilmiah.
Menurut Ds Muhammad Ijazul Khotib, dari Universitas Damaskus, dalam Al Qur'an setidaknya terdapat sekitar 750 ayat hampir seperdelapan seluruh isinya menegur orang-orang mukmin untuk mempelajari alam semesta, untuk berfikir, dan untuk menjadikan kegiatan ilmiah ini sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan umat. Hal ini pula yang membuat perkembangan sains dunia Islam terutama pada abad ke VIII, IX sampai XI, sangat maju. Sebab pada saat itu umat Islam benar-benar mengikuti perintah yang di ulang-ulang Allah dalam Al Qur'an.
Masa keemasan Islam dalam dunia Sains bahkan tersohor sampai di pelosok Eropa. Bahkan Stodard salah satu penulis Eropa memuji kebangkitan dunia sains Islam. Dia menggambarkan ketakjuban yang sangat mendalam. Bagaimana tidak, hanya dalam waktu se abad (abad ke VI sampai ke VII) dari Gurun yang tandus di Jazirah Arab, di tambah suku bangsa yang terbelakang Ilmu pengetahuan bisa berkembang pesat, bahkan ajaran Islam sendiri bisa menyebar hingga menggenangi hampir separuh dunia. Kondisi ini merupakan peristiwa yang amat menakjubkan dalam sejarah manusia.
Allah memberikan petunjuk pada manusia untuk terus menggali Ilmu pengetahuan dan rahasia-rahasia alam semesta yang menggambarkan kebesaranNya. Semua itu dijelaskan dalam Al Qur'an. Sebagai contoh: Surat Al Mukminuun ayat: 12-14. Allah berfirman, '' Dan sesungguhnya telah kami ciptakan manusia dari saripati tanah, kemudian kami jadikan saripati itu tersimpan didalam tempat yang kokoh. Kemudian kami dari saripati itu segumpal darah. Maka kami ciptakan dari segumpal darah itu segumpal daging. Maka kami ciptakan dari daging itu, tulang-belulang dan kami bungkus tulang belulang itu dengan daging, kemudian Kami jadikan dia mahluk dalam bentuk lain. Maka maha Sucilah Allah. Pecnipta yang paling baik.'' (QS. 39:12-14)
Surat Al Mukminuun itu jika kita telaah lebih jauh, sebenarnya menjelaskan tentang proses terciptanya manusia, dari proses pembuahan hingga perkembangan janin didalam rahim yang sampai saat ini dipakai dunia kedokteran untuk menjelaskan pertumbuhan bayi dalam rahim. Sungguh Allah Mahabesar, dan mengetahui apa seisi langit dan bumi. Sebelum orang-orang Eropa berhasil mengungkap dan menjelaskan proses perkembangan janin dalam rahim, AL Qur'an sudah mengatakan hal itu 1500 tahun yang lalu. Dan ratusan contoh lain yang diungkap oleh Al Qur'an. Maka dari itu,
Oleh: Nur Fahmi Magid / Diterbitkan di Bulletin Madani -Dewan Masjid Indonesia- Edisi IV 2009
Potongan dari ayat diatas adalah salah-satu bentuk teguran Allah SWT agar manusia senantiasa mempelajari ilmu pengetahuan (sains) terutama yang tertuang dalam sabda Allah di Al Qur'an. Ayat tersebut juga merupakan penekanan atas keunggulan 'orang alim' yang memiliki Ilmu pengetahuan. Seharusnya teguran-teguran seperti itu membuat masyarakat muslim menyadari betapa pentingnya mempelajari sains, juga menjadi sebuah pendorong untuk lebih berfikir secara ilmiah.
Menurut Ds Muhammad Ijazul Khotib, dari Universitas Damaskus, dalam Al Qur'an setidaknya terdapat sekitar 750 ayat hampir seperdelapan seluruh isinya menegur orang-orang mukmin untuk mempelajari alam semesta, untuk berfikir, dan untuk menjadikan kegiatan ilmiah ini sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan umat. Hal ini pula yang membuat perkembangan sains dunia Islam terutama pada abad ke VIII, IX sampai XI, sangat maju. Sebab pada saat itu umat Islam benar-benar mengikuti perintah yang di ulang-ulang Allah dalam Al Qur'an.
Masa keemasan Islam dalam dunia Sains bahkan tersohor sampai di pelosok Eropa. Bahkan Stodard salah satu penulis Eropa memuji kebangkitan dunia sains Islam. Dia menggambarkan ketakjuban yang sangat mendalam. Bagaimana tidak, hanya dalam waktu se abad (abad ke VI sampai ke VII) dari Gurun yang tandus di Jazirah Arab, di tambah suku bangsa yang terbelakang Ilmu pengetahuan bisa berkembang pesat, bahkan ajaran Islam sendiri bisa menyebar hingga menggenangi hampir separuh dunia. Kondisi ini merupakan peristiwa yang amat menakjubkan dalam sejarah manusia.
Allah memberikan petunjuk pada manusia untuk terus menggali Ilmu pengetahuan dan rahasia-rahasia alam semesta yang menggambarkan kebesaranNya. Semua itu dijelaskan dalam Al Qur'an. Sebagai contoh: Surat Al Mukminuun ayat: 12-14. Allah berfirman, '' Dan sesungguhnya telah kami ciptakan manusia dari saripati tanah, kemudian kami jadikan saripati itu tersimpan didalam tempat yang kokoh. Kemudian kami dari saripati itu segumpal darah. Maka kami ciptakan dari segumpal darah itu segumpal daging. Maka kami ciptakan dari daging itu, tulang-belulang dan kami bungkus tulang belulang itu dengan daging, kemudian Kami jadikan dia mahluk dalam bentuk lain. Maka maha Sucilah Allah. Pecnipta yang paling baik.'' (QS. 39:12-14)
Surat Al Mukminuun itu jika kita telaah lebih jauh, sebenarnya menjelaskan tentang proses terciptanya manusia, dari proses pembuahan hingga perkembangan janin didalam rahim yang sampai saat ini dipakai dunia kedokteran untuk menjelaskan pertumbuhan bayi dalam rahim. Sungguh Allah Mahabesar, dan mengetahui apa seisi langit dan bumi. Sebelum orang-orang Eropa berhasil mengungkap dan menjelaskan proses perkembangan janin dalam rahim, AL Qur'an sudah mengatakan hal itu 1500 tahun yang lalu. Dan ratusan contoh lain yang diungkap oleh Al Qur'an. Maka dari itu,
Oleh: Nur Fahmi Magid / Diterbitkan di Bulletin Madani -Dewan Masjid Indonesia- Edisi IV 2009
Langit Sekarang Adalah Gambaran Masa Lalu
Jika pada suatu malam yang cerah, kita duduk disebuah tempat yang terbuka, dimana langit terlihat cerah dengan segala perhiasan bintang yang jumlahnya ribuan, tentu kita akan takjub. Sungguh besar ciptaan Allah SWT. Langit dengan segala keindahannya, bintang-bintang yang terang, bulan, dan benda-benda lain yang semua mengorbit pada satu jajaran garis yang tak berubah dan tak berbenturan. Namun, jika kita fikirkan lebih jauh lagi, ternyata langit bisa juga dijadikan contoh gambaran waktu sepanjang masa. Bagaimana bisa? Dari tulisan ini saya mencoba, semoga menjadi sebuah diskusi yang bisa dipahami.
Dalam sebuah sebuah Ayat, Allah berfirman: ''Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun'' (QS. AL Ma'arij 70:4)
Sungguh, ketika kita berfikir tentang waktu, maka kita akan kesulitan untuk menemukan jawabannya. Bahkan dalam ilmu filsafat, waktu bisa dikatakan sebagai sesuatu yang sulit untuk dijelaskan. Dalam kamus bahasa pun tidak dijelaskan secara terperinci tentang apa itu waktu. Lalu kenapa kita hubungkan dengan keadaan langit saat cerah? dimana korelasinya?
Dalam ilmu Fisika modern, telah ditetapkan, bahwa kecepatan yang paling cepat di alam ini adalah kecepatan cahaya dimana geraknya mencapai 300.000 KM per detik. Jadi setiap satu detik, cahaya yang disorotkan menempuh jarak hingga 300 ribu KM jauhnya. Sampai saat ini, manusia belum bisa menciptakan kendaraan yang bisa menembus kecepatan tersebut. Dan ada sebuah teori yang menjelaskan, jika sebuah benda (yang terdiri dari kumpulan partikel-partikel) jika dipercepat sebesar kecepatan cahaya, maka benda tersebut akan tercerai-berai. Tidak mungkin manusia bisa membuat pesawat yang super canggih dengan kemampuan kecepatan cahaya. Karna biar sepadat apapun sebuah benda akan pecah berkeping-keping dengan jika harus dipercepat 300 ribu KM per detik. Satu-satunya yang bisa dipercepat dengan cahaya adalah cahaya itu sendiri. Karna tidak memiliki berat.
Mari kita simak Ayat berikutnya, Yakni Surat Al Mulk ayat :3. ''Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?'' (QS AL Mulk 67:3)
Jika kita pahami ayat tersebut, dan kita hubungkan dengan pemandangan langit yang kita saksikan pada suatu malam yang cerah, maka saya yakin, anda akan takjub dan mengaggumi kebesaran Allah SWT. Bagaimana tidak, dilangit yang kita saksikan dengan kasat mata, terdapat ribuan bintang, planet, satelit yang mengelilingi planet, semua bisa bergerak dengan jalurnya masing-masing dan tidak bertabrakan antara benda satu dengan yang lainnya. Sungguh dzat yang maha besar yang bisa mengatur segala pergerakan tersebut.
Lalu bagaimana jika kita hubungkan kondisi ini dengan waktu? menurut saya, saat kita berdiri di malam yang cerah dengan pemandangan bintang-bintang dilangit, sebenarnya kita telah menyaksikan pemandangan masa lampau. Mungkin kurun waktunya antara 10 tahun, atau 1000 tahun yang lalu bahkan 1 Milyar tahun yang lalu. Pemandangan yang kita saksikan malam itu bukanlah pemandangan saat itu juga. Tentu anda akan bertanya? kok bisa? mari kiita kembali pada hitungan tempuh waktu yang tercepat seperti yang saya tuliskan diatas.
Dalam sebuah ketetapan, kecepatan cahaya memiliki kecepatan tertinggi yakni 300.000 Km per detik. Jika jarak bulan dengan bumi adalah 350.000 KM, maka bisa dikatakan, cahaya bulan (pantulan dari matahari) bisa kita lihat dibumi dalam hitungan sekitar 1,3 detik. Jadi cahaya bulan yang kita lihat saat ini adalah cahaya yang muncul 1,3 detik yang lalu. Begitu juga benda-benda yang lain. Dalam ilmu astronomi, diketahui jarak bintang dan bumi sangat variatif. Ada bintang yang memiliki jarak 8 tahun cahaya. Artinya pemandangan yang kita lihat pada saat itu merupakan pancaran 8 tahun yang lalu. Bahkan ada bintang yang jaraknya mencapai 1 juta tahun cahaya, maka pancaran yang bisa kita saksikan pada saat itu adalah pancaran 1 juta tahun yang lalu!. Bahkan ada bintang yang memiliki jarak sekitar 10 Milyar tahun cahaya yang bisa kita saksikan pancarannya di Bumi, artinya cahaya yang kita saksikan merupakan sinar yang muncul 1 Milyar tahun yang lalu!! Karna itu, jika kita berdiri pada suatu malam yang cerah, sungguh kita telah menyaksikan pemandangan lintas waktu. Pemandangan masa lampau yang kita nikmati saat ini. Subhanallah...
''Maha Suci Allah Yang di tangan-Nya lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu,'' (QS. Al Mulk 67: 3)
Hitungan tersebut juga bisa anda gunakan untuk melihat siang. Cahaya matahari misalnya. Seperti diketahui, jarak antara matahari dan Bumi mencapai 150 juta KM. Jika mengacu pada kecepatan cahaya (300 ribu KM/detik) maka cahaya dengan jarak tersebut sinar Matahari bisa mencapai bumi membutuhkan waktu sekitar 8 menit. Jadi bisa juga dikatakan, sinar matahari yang kita nikmati di bumi, tak lain adalah sinar yang muncul 8 menit sebelumnya. Sungguh langit adalah hamparan waktu, dimana semua merupakan gambaran masa kini tapi sudah terjadi pada masa lampau. Sungguh jika kita pahami semua benda-benda langit maka kita akan semakin yakin akan kebesaran Allah, dan kita akan semakin merasa sebagai mahluk yang tak ada apa-apanya jika dibanding kebesaranNya.
'' Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itu pun dalam keadaan payah'', (QS Al Mulk 67:4)
Oleh: Nur Fahmi Magid / Diterbitkan di Bulletin Madani Edisi V 2009
Dalam sebuah sebuah Ayat, Allah berfirman: ''Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun'' (QS. AL Ma'arij 70:4)
Sungguh, ketika kita berfikir tentang waktu, maka kita akan kesulitan untuk menemukan jawabannya. Bahkan dalam ilmu filsafat, waktu bisa dikatakan sebagai sesuatu yang sulit untuk dijelaskan. Dalam kamus bahasa pun tidak dijelaskan secara terperinci tentang apa itu waktu. Lalu kenapa kita hubungkan dengan keadaan langit saat cerah? dimana korelasinya?
Dalam ilmu Fisika modern, telah ditetapkan, bahwa kecepatan yang paling cepat di alam ini adalah kecepatan cahaya dimana geraknya mencapai 300.000 KM per detik. Jadi setiap satu detik, cahaya yang disorotkan menempuh jarak hingga 300 ribu KM jauhnya. Sampai saat ini, manusia belum bisa menciptakan kendaraan yang bisa menembus kecepatan tersebut. Dan ada sebuah teori yang menjelaskan, jika sebuah benda (yang terdiri dari kumpulan partikel-partikel) jika dipercepat sebesar kecepatan cahaya, maka benda tersebut akan tercerai-berai. Tidak mungkin manusia bisa membuat pesawat yang super canggih dengan kemampuan kecepatan cahaya. Karna biar sepadat apapun sebuah benda akan pecah berkeping-keping dengan jika harus dipercepat 300 ribu KM per detik. Satu-satunya yang bisa dipercepat dengan cahaya adalah cahaya itu sendiri. Karna tidak memiliki berat.
Mari kita simak Ayat berikutnya, Yakni Surat Al Mulk ayat :3. ''Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?'' (QS AL Mulk 67:3)
Jika kita pahami ayat tersebut, dan kita hubungkan dengan pemandangan langit yang kita saksikan pada suatu malam yang cerah, maka saya yakin, anda akan takjub dan mengaggumi kebesaran Allah SWT. Bagaimana tidak, dilangit yang kita saksikan dengan kasat mata, terdapat ribuan bintang, planet, satelit yang mengelilingi planet, semua bisa bergerak dengan jalurnya masing-masing dan tidak bertabrakan antara benda satu dengan yang lainnya. Sungguh dzat yang maha besar yang bisa mengatur segala pergerakan tersebut.
Lalu bagaimana jika kita hubungkan kondisi ini dengan waktu? menurut saya, saat kita berdiri di malam yang cerah dengan pemandangan bintang-bintang dilangit, sebenarnya kita telah menyaksikan pemandangan masa lampau. Mungkin kurun waktunya antara 10 tahun, atau 1000 tahun yang lalu bahkan 1 Milyar tahun yang lalu. Pemandangan yang kita saksikan malam itu bukanlah pemandangan saat itu juga. Tentu anda akan bertanya? kok bisa? mari kiita kembali pada hitungan tempuh waktu yang tercepat seperti yang saya tuliskan diatas.
Dalam sebuah ketetapan, kecepatan cahaya memiliki kecepatan tertinggi yakni 300.000 Km per detik. Jika jarak bulan dengan bumi adalah 350.000 KM, maka bisa dikatakan, cahaya bulan (pantulan dari matahari) bisa kita lihat dibumi dalam hitungan sekitar 1,3 detik. Jadi cahaya bulan yang kita lihat saat ini adalah cahaya yang muncul 1,3 detik yang lalu. Begitu juga benda-benda yang lain. Dalam ilmu astronomi, diketahui jarak bintang dan bumi sangat variatif. Ada bintang yang memiliki jarak 8 tahun cahaya. Artinya pemandangan yang kita lihat pada saat itu merupakan pancaran 8 tahun yang lalu. Bahkan ada bintang yang jaraknya mencapai 1 juta tahun cahaya, maka pancaran yang bisa kita saksikan pada saat itu adalah pancaran 1 juta tahun yang lalu!. Bahkan ada bintang yang memiliki jarak sekitar 10 Milyar tahun cahaya yang bisa kita saksikan pancarannya di Bumi, artinya cahaya yang kita saksikan merupakan sinar yang muncul 1 Milyar tahun yang lalu!! Karna itu, jika kita berdiri pada suatu malam yang cerah, sungguh kita telah menyaksikan pemandangan lintas waktu. Pemandangan masa lampau yang kita nikmati saat ini. Subhanallah...
''Maha Suci Allah Yang di tangan-Nya lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu,'' (QS. Al Mulk 67: 3)
Hitungan tersebut juga bisa anda gunakan untuk melihat siang. Cahaya matahari misalnya. Seperti diketahui, jarak antara matahari dan Bumi mencapai 150 juta KM. Jika mengacu pada kecepatan cahaya (300 ribu KM/detik) maka cahaya dengan jarak tersebut sinar Matahari bisa mencapai bumi membutuhkan waktu sekitar 8 menit. Jadi bisa juga dikatakan, sinar matahari yang kita nikmati di bumi, tak lain adalah sinar yang muncul 8 menit sebelumnya. Sungguh langit adalah hamparan waktu, dimana semua merupakan gambaran masa kini tapi sudah terjadi pada masa lampau. Sungguh jika kita pahami semua benda-benda langit maka kita akan semakin yakin akan kebesaran Allah, dan kita akan semakin merasa sebagai mahluk yang tak ada apa-apanya jika dibanding kebesaranNya.
'' Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itu pun dalam keadaan payah'', (QS Al Mulk 67:4)
Oleh: Nur Fahmi Magid / Diterbitkan di Bulletin Madani Edisi V 2009
Subscribe to:
Posts (Atom)